Artikel 19 Oct 2026

Dampak Asap Karhutla: buyarkan Masa Depan di Ruang Kelas

Dampak Asap Karhutla: buyarkan Masa Depan di Ruang Kelas

Kebakaran hutan dan lahan di Sumatera Kalimantan seolah jadi cerita lama yang terus berulang setiap tahunnya. Jika berfokus pada dampaknya, kita sering kali berhenti di masalah kesehatan atau penerbangan yang tertunda. Padahal, ada satu sektor penting yang ikut terkena imbas besar tapi jarang dapat porsi pembahasan yang mendalam, yakni pendidikan.

Saat udara sudah berubah warna dan menebarkan bau yang tidak sedap dan dapat membuat dada sesak, pihak sekolah dan pemerintah daerah tidak punya banyak pilihan. Demi menjaga kesehatan anak-anak dari ancaman ISPA, aktivitas belajar di kelas harus dikorbankan. Namun, solusi darurat yang diambil justru melahirkan persoalan baru bagi proses belajar siswa.


Sekolah Diliburkan: Hak Belajar yang Terhenti

Opsi paling instan saat kabut asap makin parah adalah meliburkan sekolah. Langkah ini memang masuk akal kalau dilihat dari sudut pandang keselamatan fisik. Tapi implikasinya ke pendidikan tidak main-main. Ketika kegiatan sekolah di hentikan sementara, proses transfer ilmu berhenti seketika. Hari-hari yang seharusnya diisi dengan diskusi dan pemahaman materi terbuang begitu saja tanpa ada pengganti yang sepadan.


Peralihan ke Daring: Serba Terbatas dan Minim Pengawasan

Untuk mengakalinya, sistem pembelajaran jarak jauh atau daring kerap dipilih. Masalahnya, belajar dari rumah saat situasi krisis seperti ini jarang berjalan efektif. Guru tidak bisa memantau kondisi siswa secara langsung ,apakah mereka benar-benar paham dengan materi yang diberikan atau malah kebingungan sendiri di rumah. Tanpa pendampingan yang intensif, pembelajaran daring sering kali cuma berakhir jadi formalitas pengumpulan tugas belaka, bukan proses belajar yang nyata.


Pembelajaran Terbatas: Jam Pelajaran Dipangkas, Materi Dikejar-kejar

Opsi lainnya adalah tetap masuk sekolah, tapi dengan durasi yang dipangkas habis. Jam pelajaran yang tadinya 45 menit, misalnya, disingkat menjadi 30 menit saja supaya anak-anak tidak terlalu lama terpapar udara luar.

Dampaknya langsung terasa di dalam kelas. Guru terpaksa mengajar kejar-kejaran dengan waktu demi mengejar target kurikulum. Penjelasan materi jadi terburu-buru, sesi tanya jawab dipotong, dan tidak ada ruang untuk pendalaman materi. Siswa pun kesulitan mencerna pelajaran dengan baik karena semuanya disampaikan secara serba cepat.

Pada akhirnya, bencana kabut asap bukan cuma soal pohon yang terbakar atau kualitas udara yang memburuk. Ini adalah ancaman nyata bagi kualitas generasi muda. Selama solusi permanen untuk mengatasi karhutla belum ditemukan, anak-anak di Sumatera dan belahan Indonesia yang terdampalk karhutla akan terus menjadi korban yang hak belajarnya dikorbankan setiap tahun.

Penulis : Galuh tafadillah

Editor : Z.hidayat kan